‘Apa Itu Bintang?’: Sebuah Pertanyaan Mudah (kan?)

himastron Uncategorized Leave a Comment

Choose Something Like Star
O star, the fairest one in sight
We grant your loftiness the right
To some obscurity of cloud
It would not do to say of night
Since dark is what brings out your light
Some mystery becomes the proud
But to be wholly taciturn
In your reserve is not allowed
Say something to us we can learn
By heart and when alone repeat
Say something! And it says “I burn”
But say with what degree of heat
Talk fahrenheit, talk centigrade
Use language we can comprehend
Tell us what elements you blend
It gives us strangely little aid
But does tell something in the end

Robert Forst

Sirius, bintang paling terang di langit malam. Sumber : Dokumentasi Pribadi Mellostrom

Apa itu Bintang? Sebuah pertanyaan yang mungkin sudah ada sedari dulu di benak Anda. Oh, atau baru terpikirkan setelah anda membaca judul artikel ini? Bintang, sebuah titik cahaya di langit yang berkelap kelip seumpama berlian. Beberapa orang ada yang mengatakan, jika titik cahaya tersebut tidak berkelap-kelip, artinya titik itu bukan bintang, melainkan sebuah planet. Ya, kita tahu bahwa singkatnya planet adalah benda langit yang mengelilingi sebuah bintang – dalam konteks tersebut adalah matahari. Lalu, kembali ke pertanyaan pertama, apa itu bintang?


Bintang dapat ditakrifkan sebagai benda langit yang memenuhi dua kondisi: (a) terikat dengan gravitasi diri; (b) memancarkan energi yang berasal sumber internal. Gravitasi akan menekan dengan harga yang sama ke segala arah. Oleh karena itu, untuk poin pertama, sebuah bintang haruslah berbentuk bulat. Bukan dengan lima buah ujung lancip. Kemudian, sumber energi bintang mayoritas berasal dari reaksi fusi nuklir pada interior bintang, dan beberapa dihasilkan dari pengerutan potensial gravitasi. Dari definisi ini, sebuah planet bukanlah sebuah bintang, meskipun kemunculannya di langit persis dengan bintang, karena (kebanyakan) cahayanya berasal dari pantulan sinar bintang induknya – lagi-lagi, dalam konteks keterlihatannya dari bumi, yaitu matahari. Pun komet tidak bisa dikatakan sebagai bintang, walau sering pula kita mengatakannya sebagai “bintang jatuh” – karena kemunculannya bersama dengan ekornya seolah akan jatuh menabrak matahari. Komet, sama seperti planet, bersinar karena memantulkan cahaya dari bintang induknya dan bahkan gravitasi dirinya tak mampu mengikatnya menjadi bentuk yang bulat.


Implikasi langsung definisi bintang di atas, maka bintang harus berevolusi bersamaan dengan energi yang dilepaskan dari interiornya, menyebabkan perubahan dari struktur dan komposisinya, atau kedunya. Inilah yang dimaksud dengan evolusi. Dari definisi tersebut, kita kemudian dapat menarik kesimpulan tentang kematian sebuah bintang dalam dua jalan: pelanggaran pada definisi pertama – gravitasi diri – artinya pecahnya bintang tersebut dan material-materialnya yang berserakan ke ruang antar bintang, atau pelanggaran pada definisi kedua – tersedianya energi internal – artinya bintang tersebut kehabisan bahan bakar untuk reaksi fusi nuklir. Selanjutnya, bintang tersebut akan perlahan meredup, perlahan mendingin, memancarkan sisa-sisa energi yang dibangkitkan pada fase sebelumnya. Sampai akhirnya, ia akan menghilang, dan tidak akan pernah terlihat oleh kita di bumi, bahkan oleh teleskop terbaik sekalipun. Inilah yang kita sebut, bintang mati. Kematian bintang terjadi akibat kedua proses tersebut: hancur dan kehabisan bahan bakar. Sama seperti kelahiran bintang, ini merupakan proses yang kompleks, yang melibatkan banyak problem yang masih dalam penyelidikan hingga sekarang.


Jadi, tertarik ikut dalam penyelidikannya?


Referensi
1. D. Prialnik. “An Introduction to the Theory of Stellar Structure and Evolution” Cambridge University Press. New York.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *