Penentuan Kiblat

himastron Artikel Leave a Comment

Penentuan Kiblat
Oleh: Muhammad Ali Syaifudin (10316012), Sulima Nurul Hidayah (10316026), Oktafian Yusuf Prasetya (10316028), Lathifah Ridhalloh (10316035)
Editor: Kamila Permata (10314018)

Kiblat merupakan salah satu hal penting bagi umat muslim. Menentukan kiblat yang benar merupakan tugas muslim yang memiliki ilmunya, yaitu ilmu astronomi.

Karena jarak yang jauh dari Kakbah, menentukan kiblat menjadi hal yang tidak mudah. Masih banyak muslim Indonesia yang belum tahu kiblat secara pasti.

Menurut KBBI kiblat adalah arah ke Kakbah di Mekah. Maksudnya seperti apa sih? Karena saya bukanlah ahlinya, maka saya hanya akan membatasi kiblat menurut pengamat di permukaan Bumi. Menurut pengamat di permukaan Bumi, kiblat adalah arah jika kita berjalan lurus ke arah tersebut maka kita akan mencapai Kakbah. Jadi, kiblat bukanlah arah sebuah vektor tiga dimensi yang mengarah dari pengamat ke Kakbah. Jika demikian, maka jelas di beberapa tempat di permukaan Bumi menghadap miring ke dalam tanah.

Untuk menentukan kiblat sendiri, kita hanya perlu melihat di mana Kakbah berada. Untuk tempat yang jauh dari Kakbah, sehingga tidak bisa melihat Kakbah, dibutuhkan cara lain. Berikut akan dijelaskan beberapa metode untuk menentukan kiblat.

Metode I: Mengetahui sudut relatif kiblat dari Utara
Metode ini menentukan kiblat dengan mengetahui kiblat terhadap suatu acuan, seperti utara.

Sebutlah sudut A adalah sudut yang dibentuk utara dan kiblat. Dengan mengetahui posisi lintang bujur Kakbah (atau kota mekah) dan posisi lintang bujur pengamat dan asumsi Bumi bola sempurna, manfaatkan persamaan segitiga bola, kita bisa menghitung sudut A dengan rumus.


Dengan
A: Azimut Kakbah dihitung dari utara ke barat
ϕ_K : lintang Kakbah = 21,4224 derajat LU
λ_K : bujur Kakbah = 39,826167 derajat BT
ϕ_P : lintang pengamat
λ_P : bujur pengamat

Setelah mengetahui sudut A, kita bisa menentukan kiblat. Caranya pada tanah yang datar tentukan titik tengah lalu tandai arah utara. Lalu menggunakan busur derajat/alat mengukur sudut lainnya tentukan kiblat dengan besar sudut sebesar A dari utara.

Namun, kita juga harus tahu pasti di mana utara pengamat. Kita bisa menggunakan kompas, namun akurasi kompas untuk menentukan utara sedikit melenceng, sebab kutub utara rotasi Bumi dan kutub utara magnetik Bumi (yang sebenarnya merupakan kutub selatan magnet Bumi, karena gaya tarik menarik antara kompas dan kutub) tidaklah berimpit (berada di 86,5 derajat  LU dan 172,6 derajat BB)

Cara lain menentukan arah kardinal adalah menunggu Matahari hingga berkulminasi atas/ ketika bayangan benda paling pendek. Ketika Matahari berkulminasi atas, kita dapat menentukan arah utara/selatan (tergantung deklinasi Matahari) dengan tepat.

Metode II: Matahari di atas/di bawah Kakbah
Karena gerak edar Matahari sepanjang ekliptika (bidang orbit Bumi mengitari Matahari), terdapat dua kali dalam setahun ketika Matahari berada tepat di atas (zenit) Kakbah, yaitu ketika deklinasi Matahari sama dengan lintang kota Mekkah. Ketika Matahari berada di atas Kakbah, bayangan tongkat yang tegak lurus horizon pengamat akan sejajar arah Kakbah. Dengan demikian kita bisa tahu kiblat. Lebih jelasnya, tancapkan/tempelkan tongkat/benda lurus lainnya yang tegak lurus laintai/tanah pengamat yang datar.

Untuk memastikan tanah pengamat datas, bisa menggunakan bantuan air/waterpass. Arah bayangan dari tongkat (yang mengarah dari pagkal tongkat ke ujung bayangan) merupakan arah yang berlawanan dengan kiblat. Sehingga, kiblat merupakan lawan dari arah bayangan dari tongkat. Dengan metode ini, kurang dari separuh permukaan Bumi yang mendapat sinar Matahari dapat menggunakan metode ini. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 27 Mei pukul 16.18 WIB dan 15 Juli pukul 16.27 WIB (+ 1 hari di tahun basit).

Selain ketika Matahari berada tepat di atas Kakbah, ada juga posisi khusus lainnya yaitu ketika Matahari tepat di bawah Kakbah (nadir). Cara menentukan kiblatnya hampir sama dengan cara di atas. Cuma, pada kejadian ini, arah bayangan sudah mengarah ke Kakbah. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 28 November pukul 6.09 WIT dan 16 Januari pukul 6.29 WIT. Kejadian kali ini dapat dimanfaatkan belahan Bumi lainnya yang tidak mendapat cahaya Matahari ketika Matahari tepat di atas Kakbah.

Kelebihan metode ini adalah tingkat akurasi yang tinggi dan sangat mudah dilaksanakan. Kekurangannya adalah, untuk daerah-daerah yang jauh dari Kakbah, posisi Matahari terlalu rendah sehingga mudah terhalangi benda lain seperti gunung, bangunan, dan hutan. Selain itu, kita harus menunggu waktu-waktu tertentu sehingga sangat bergantung waktu, ketika kita terburu-buru maka metode ini tidak bisa dipaksakan.

Metode III: Mengetahui sudut relatif kiblat dan memanfaatkan Matahari
Metode ini bisa dibilang gabungan metode I dan II. Dengan menggunakan perhitungan, kita dapat menentukan azimuth kiblat. Dengan memanfaatkan Matahari pula (yang azimuthnya berubah-ubah) kita dapat memilih suatu waktu ketika Matahari berada tepat searah azimuth kiblat (atau berlawanan arah). Ketika waktu tersebut, kiblat dapat ditentukan dengan melihat bayangan benda yang tegak lurus permukaan horison Bumi.

Dengan menggunakan rumus-rumus segitiga bola didapat persamaan.

Dengan
ZT: Jam zona
λ_P : Bujur pengamat
λ_K : Bujur Kakbah
ET: Equation of Time pada waktu pengamatan
ϕ: lintang pengamat
δ: deklinasi Matahari
A: Azimut Kakbah dari utara ke barat

Deklinasi Matahari dan persamaan waktu (equation of time) dapat dicari di tabel untuk tanggal pengamatan, seperti tabel deklinasi Matahari dan tabel persamaan waktu. Ketika jam zona (jam yang biasa kita gunakan) menunjukkan pukul ZT dari perhitungan, maka bayangan benda yang sejajar horison akan mengarah berlawanan kiblat.

Kelemahan metode ini adalah, pada suatu tempat di permukaan Bumi dan suatu waktu, azimut Matahari dalam sehari tidak ada yang tepat ke kiblat sehingga harus menunggu waktu lainnya.

Simpulan
Telah dijelaskan tiga metode untuk menentukan kiblat jika kita tidak dapat melihat Kakbah secara langsung. Masing-masing metode memiliki keuntungan dan kekurangan. Semua metode valid, sehingga dikembalikan kembali kepada kita ingin menggunakan metode yang mana. Dengan adanya ketiga metode untuk menentukan kiblat, diharapkan umat muslim dapat menentukan kiblat dengan benar sehingga dapat menjalankan ibadahnya dengan arah yang tepat.

Semoga dengan artikel ini, kita semakin mendapatkan ilmu mengenai arah-mengarah di permukaan Bumi. Berterimakasihlah kepada dunia yang begitu indah, yang dapat kita manfaatkan untuk menebar manfaat bersama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *