Ancaman Nyata Sampah Antariksa Buatan Manusia

himastron Artikel Leave a Comment

Ancaman Nyata Sampah Antariksa Buatan Manusia
Oleh Luluatul Badingah (10316005), Usman Naafiuddin (10316009), (Amatul Firdausya Nur C. (10316011), Salman Al Farisi (10316024)
Editor: Wulandari (10314028)

Saat ini permasalahan sampah tidak hanya sebatas sampah-sampah di permukaan Bumi. Tetapi terdapat juga sampah yang dapat mengancam kehidupan di Bumi yaitu sampah antariksa.

Sampah antariksa adalah benda-benda yang berada di daerah orbit Bumi yang sudah tidak berfungsi lagi. Sampah antariksa ini dapat berupa bekas roket (rocket bodies), serpihan (debris), sisa-sisa satelit yang sudah tidak berfungsi lagi, dan lain-lain.

Berdasarkan pengukuran radar dan optik yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Rusia didapatkan hasil bahwa terdapat sampah antariksa berukuran lebih besar dari 5-10 cm di orbit rendah, dan lebih besar dari 0,3-1,0 m pada ketinggian orbit geostasioner (36.000 km di atas khatulistiwa).

Terdapat lebih dari 500.000 keping sampah antariksa yang terlacak mengorbit Bumi. Sampah-sampah tersebut bergerak hingga mencapai kecepatan 17.500 meter per jam, cukup cepat untuk kepingan yang berukuran kecil untuk bisa menimbulkan kerusakan apabila menabrak satelit lain atau pesawat antariksa.

Sampah antariksa buatan ini memiliki dua dampak utama yaitu bagi penduduk Bumi dan bagi kehidupan di luar angkasa. Bagi kehidupan di Bumi, sampah antariksa yang masuk ke Bumi dengan ukuran yang besar dan tidak habis terbakar akan menabrak Bumi, dan apabila jatuh di daerah padat penduduk maka akan menimbulkan korban jiwa.

Bagi kehidupan di luar angkasa, sampah antariksa dapat mempersulit satelit untuk mengorbit Bumi, dapat menabrak satelit, dan dapat membahayakan para astronom diluar sana karena rawan tertabrak sampah antariksa sehingga dapat menimbulkan kematian.

Sampah antariksa bergerak di daerah orbit Bumi dengan kecepatan yang sangat tinggi, yaitu mencapai 15 km/s untuk sampah antariksa buatan manusia, dan mencapai 72 km/s untuk sampah antariksa alami. Sampah antariksa yang berukuran lebih dari 1 cm dapat menyebabkan kerusakan kritis apabila menabrak pesawat ruang angkasa. Sedangkan sampah antariksa yang berukuran lebih dari 10 cm dapat menyebabkan kerusakan fatal satelit atau pesawat ruang angkasa akan menjadi hancur berkeping-keping.

Sampah antariksa juga dapat mengganggu orbit satelit. Pada tahun 2016, satelit Sentinel-1 terkena partikel pada sel surya. Hal ini menyebabkan satelit tersebut kehilangan cadangan daya untuk beberapa saat dan sedikit mengubah orientasi orbit.

Untuk mengatasi sampah antariksa tersebut perlu adanya teknologi untuk mengatasinya. Terdapat beberapa gagasan tentang teknologi untuk membersihkan sampah tersebut. Teknologi tersebut antara lain:

1. Tukang Sampah Robot
Sebuah robot ruang angkasa dilengkapi lengan, bertugas menangkap satelit yang sudah tidak berfungsi dan membawanya kembali ke Bumi. ESA merencanakan peluncuran tukang sampah robot ini tahun 2023.

2. Dihancurkan di langit
Menggunakan semacam meriam laser untuk menghancurkan sampah antariksa di orbitnya. Pusat penerbangan dan antariksa Jerman-DSLR terus mengembangkan teknologi laser ini. Pecahan partikel sampah ruang angkasa yang ditembak laser, disebut akan hancur dan menjadi uap.

3. Jaring dan Lasso Elektrik
Lembaga Antariksa Amerika Serikat-NASA menggagas penggunaan jaring dan lasso elektrik untuk menangkap asteroid dan itu juga bisa digunakan menangkap partikel sampah antariksa. Obyek yang dijaring dibawa kembali ke atmosfir. Yang berukuran kecil akan habis terbakar yang cukup besar bisa diamankan dari bahaya tabrakan. Sejauh ini idenya belum diwujudkan jadi kenyataan.

4. Tambang Elektrodinamik
Lembaga antariksa Jepang mencoba satu solusi yaitu tambang elektronik yang panjangnya 700 meter yang terbuat dari baja tahan karat dan aluminium. Ide tersebut bermanfaat untuk menurunkan keceptan partikel sampah antariksa dengan menurunkan tambang tipis dari stasiun ruang angkasa internasional ISS kemudian menyeret sampah antariksa ke atmosfer agar terbakar habis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *