Cahaya yang Mengotori Udara

himastron Ilmiah Leave a Comment

CAHAYA YANG MENGOTORI UDARA

Achmad Zainur Rozzykin/10314021
Editor : Evan Irawan Akbar dan Gabriela Kezia Haans

 

Pada tanggal 25 Maret lalu seluruh dunia memperingati Earth Hour dengan mematikan lampu selama satu jam. Kegiatan ini bertujuan untuk mengurangi penggunaan listrik dan bahan bakar fosil. Ternyata selain untuk menghemat listrik, kegiatan Earth Hour  ini juga mampu mengurangi dampak dari polusi cahaya.

Sumber : http://darksky.org/wp-content/uploads/2014/09/Blackout_Todd_CarlsonTowards_Toronto_Goodwood_Ontario.jpg

 

Apa itu polusi cahaya? Polusi cahaya terjadi saat cahaya buatan yang dihasilkan manusia berlebihan dan diarahkan secara tidak tepat. Indikasi terjadinya polusi cahaya dapat dilihat pada langit malam yang tak lagi gelap, melainkan dipenuhi pendar cahaya dari lampu yang terhambur di atmosfer. Astronomi adalah salah satu bidang yang terkena dampak secara langsung karena cahaya yang menerangi langit mengurangi visibilitas cahaya bintang dan objek langit lainnya. Menurut International Dark-Sky Association, polusi cahaya ini juga memberikan dampak negatif terhadap kesehatan manusia dalam jangka panjang, aktivitas para hewan, serta perkembangan tumbuhan. Bahkan polusi cahaya juga berdampak pada lingkungan.

Menurut studi oleh American Geophysical Union pada 2010, terangnya cahaya kota pada malam hari dapat memperparah kerusakan lingkungan terutama polusi udara. Cahaya buatan di perkotaan yang terhambur di atmosfer dapat mengganggu keberjalanan reaksi kimia berupa reaksi ‘pembersihan’ udara dari polutan yang biasa terjadi pada malam hari.

Setiap hari atmosfer Bumi terus disuplai polutan sebagai ‘efek samping’ dari kegiatan manusia. Kendaraan bermotor contohnya, alat transportasi ini menyumbang polutan bagi udara berupa gas CO (karbon monoksida), NOx (nitrogen oksida), dan SOx (sulfur oksida). Kegiatan industri juga menyumbang polutan dengan asap dari cerobong asap. Semua polutan tersebut menumpuk di atmosfer setiap harinya. Polutan ini dapat berdampak kepada kondisi lingkungan serta kesehatan manusia jika terhirup. Sebenarnya, secara alami atmosfer dapat membentuk suatu bentuk istimewa dari nitrogen oksida, yaitu radikal nitrat (NO3 fotolisis). Senyawa ini dikatakan istimewa karena dapat menguraikan polutan di atmosfer dan mencegah terbentuknya smog atau kabut asap. Senyawa radikal ini akan bekerja pada malam hari, karena pada prinsipnya ia akan ‘rusak’ oleh cahaya matahari.

Penelitian oleh US National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) di langit Los Angeles pada 2010 lalu mengindikasikan bahwa energi dalam bentuk cahaya yang dipancarkan dari cahaya buatan pusat kota dapat menekan kerja radikal nitrat tersebut. Perbandingan cahaya kota Los Angeles sendiri adalah 10.000 kali lebih redup dari cahaya Matahari. Namun, intensitas tersebut sudah memberikan efek yang signifikan. Cahaya buatan dari perkotaan mampu menekan kerja nitrat radikal hingga 7%. Pada keesokan harinya, cahaya perkotaan tersebut akan memberikan dampak berupa kenaikan senyawa pemicu polusi ozon berupa polutan NOx (nitrogen oksida) hingga lebih dari 5%.

Para peneliti menemukan bahwa cahaya merah adalah cahaya yang paling ramah lingkungan karena efeknya pada kerja nitrat radikal sangatlah kecil. Namun sayangnya, cahaya merah adalah cahaya yang paling tidak diminati untuk pencahayaan buatan dan kecil kemungkinan untuk ‘memerahkan’ lampu-lampu di seluruh kota.

NOAA menyatakan bahwa diperlukan banyak usaha untuk benar-benar mengetahui langkah selanjutnya yang tepat untuk menanggulangi masalah ini. Jumlah polutan yang menumpuk di atmosfer setiap harinya terus bertambah. Tindakan kecil yang bisa mengurangi kerusakan lingkungan sangat diperlukan.

Sumber : https://www.jmu.edu/_images/planetarium/lighting-examples.jpg

 

Dikarenakan cahaya berlebihan yang kita hasilkan dapat memperparah kerusakan lingkungan, maka dari itu mari kita gunakan cahaya sebijak mungkin agar dampak negatifnya dapat diminimalkan. Kita bisa membantu mengurangi polusi cahaya melalui hal-hal yang sederhana. Seperti menggunakan lampu dalam waktu dan tempat yang tepat serta melengkapi penerangan outdoor dengan tudung lampu. Matikan lampu jika tidak lagi diperlukan karena selain mengurangi polusi cahaya, hal ini juga sejalan dengan misi Earth Hour yaitu menghemat energi.

 

Referensi :

Amos, Jonathan. 2010. City lighting ‘boosts pollution’. BBC News.

http://www.bbc.com/news/science-environment-11990737  Diakses pada 26 Maret 2017.

International Dark-Sky Association. 2017. Light Pollution. IDA.

http://darksky.org/light-pollution/. Diakses pada 15 April 2017.

Sommariva, R., et al., “Night-time radical chemistry during the NAMBLEX campaign”,   Atmospheric Physics and Chemistry Vol. 7, 2007

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *