MENGUAK BENTUK KORONA MATAHARI SAAT GERHANA MATAHARI TOTAL (GMT) 2016

himastron Ilmiah Leave a Comment

Pada tanggal 9 Maret 2016 lalu, GMT melewati beberapa bagian di Indonesia. Masyarakat Indonesia pada peristiwa itu dapat melihat Matahari dengan mata telanjang. Saat totalitas, “mahkota” matahari yang disebut korona matahari tampak menari-nari di atas langit yang dilewati oleh totalitas.

Pada saat itu, korona matahari tampak seakan-akan seperti kobaran api akibat adanya efek yang ditimbulkan oleh atmosfer Bumi kita. Tetapi, apa sebenanya korona matahari itu?

Korona matahari adalah bagian terluar dari atmosfer matahari. Memiliki kepadatan yang lebih rendah dari lapisan atmosfer lainnya tetapi memiliki suhu yang lebih tinggi dibandingkan dengan fotosfer matahari. Korona matahari memiliki beberapa fitur, diantaranya:

  1. Polar plumes

Polar plumes adalah korona matahari yang terdapat di sekitar kutub magnetic matahari. Fitur ini muncul karena konsentrasi dari fluks uni-kutub yang bersinggungan dengan fluks minoritas dari muatan kutub.

  1. Helmet streamers

Helmet streamers muncul pada perbatasan antara rongga muatan kutub yang berlawanan dan memperluas untuk membentuk lapisan plasma heliosperik.

  1. Pseudostreamers

Fitur ini muncul pada perbatasan antara rongga muatan kutub yang sama.

Untuk GMT 2016, teridentifikasi beberapa fitur korona matahari seperti polar plumes dan helmet streamers.

Setelah kita mengetahui fitur-fitur dari korona matahari, bagaimana bentuk asli korona matahari yang sebenarnya? Untuk mengetahui bentuk sebenarnya dari korona matahari, seorang astronom asal Jerman yang bernama Hans Ludendorff pada tahun 1928 membuat sebuah indeks untuk mengukur bentuk korona. Dengan menghitung elipstisitas dari korona matahari, Ludendorff menamakannya sebagai flattening index. Flattening index tidak memiliki satuan dan bervariasi antara 0 – 0,4.

Kemudian pada tahun 1956, Nikolskii merumuskan indeks lain yang dinamakan Geometric Flattening Index. Indeks ini menggunakan citra korona yang telah diproses sehingga memunculkan fitur-fitur korona seperti gambar di bawah ini.

Buat Artikel

 

Dengan menghitung jumlah aliran korona (streamer) pada kutub matahari dan menghitung jumlah dan sudut streamer terhadap ekuator matahari, indeks ini bervariasi dari 0,8-2,4.

Mengapa kedua indeks tersebut dapat bervariasi? Hal ini diakibatkan oleh siklus matahari itu sendiri. Aktivitas matahari yang selalu berubah secara periodic selama 11 tahun sekali mengakibatkan korona yang tampak tiap kali gerhana memiliki bentuk yang berbeda-beda. Ketika Matahari sedang berada pada fase maksimum, kedua indeks ini berada pada nilai terkecilnya, begitu pula sebaliknya.

Untuk mengetahui variabilitas dari korona matahari, kita bias membuktikannya dengan mencari hubungan kedua indeks tersebut dengan bilangan bintik matahari (sunspot number). Sunspot number mudah didapat dari berbagai situs yang meneliti Matahari, contohnya WDC-SILSO yang dikeluarkan oleh Royal Observatory of Belgium.

Setelah kita tahu bahwa korona matahari bervariasi terhadap waktu, kita dapat “memprediksi” nilai bilangan bintik matahari terbesar pada saat fase maksimum dari siklus matahari selanjutnya. Prediksi ini dilakukan dengan cara meninjau GMT yang berada atau dekat dengan fase maksimum dari siklus matahari, kemudian dicarilah hubungan antara bilangan bintik matahari dengan flattening index. Berdasarkan hubungan tersebut, kita dapat menebak nilai maksimum dari sunspot number pada siklus matahari selanjutnya.

Sumber gambar fitur: https://apod.nasa.gov/apod/ap090726.html

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *