MENGENAL CMB LEBIH DEKAT

himastron Ilmiah Leave a Comment

Apa Itu CMB?

Mungkin ketika pertama kali mendengar CMB, benak kita bertanya-tanya, benda apa itu? Atau sebagian orang juga bertanya, “Apakah CMB itu nama sebuah bank?” Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi wajar karena CMB tidak sepopuler gerhana atau hujan meteor di kalangan orang awam. Kemudian jika kita melihat video tentang alam semesta, biasanya dibagian ketika alam semesta ini dilihat dari luar, terlihat seperti bola yang melapisi seluruh alam semesta, mirip dengan yang terlihat pada gambar di bawah. Apakah itu?

Peta persebaran CMB yang diamati oleh satelit WMAP Sumber: http://cosmology.berkeley.edu/Education/CosmologyEssays/The_Cosmic_Microwave_Background.html

Peta persebaran CMB yang diamati oleh satelit WMAP
Sumber: http://cosmology.berkeley.edu/Education/CosmologyEssays/The_Cosmic_Microwave_Background.html

Ya, itulah CMB. CMB sendiri merupakan singkatan dari Cosmic Microwave Background. Sesuai namanya, CMB dipancarkan dalam panjang gelombang microwave. Sejarah penemuannya pun tak lepas dari pengamatan dalam panjang gelombang radio. Pada saat ditemukan, dua orang astronom yang bekerja dalam bidang astronomi radio, Arno Penzias dan Robert Wilson, menemukan sinyal microwave yang kuat diseluruh penjuru langit. Awalnya mereka kira bahwa sinyal itu merupakan gangguan dari kotoran burung-burung yang mengotori antena yang digunakan untuk pengamatan.  Namun, setelah dibersihkan, ternyata sinyal tersebut masih ada dan menyebar diseluruh penjuru langit. Pengamatan ini mendukung prediksi dari Robert Dicke yaitu jika alam semesta berasal dari suatu yang panas dan rapat, maka saat ini hal tersebut bisa diamati dalam panjang gelombang microwave. Selain menyebar diseluruh penjuru langit, CMB juga diketahui memiliki fluktuasi temperatur yang sangat kecil yaitu sebesar 10-5, sehingga dapat dikatakan CMB ini seragam. Sesuatu yang seragam mengindikasikan bahwa, hal tersebut berasal dari suatu sumber yang sama.

Karena CMB diprediksi dari sumber yang sama, maka penemuan CMB mendukung teori dari Big Bang yang telah memprediksi kehadiran radiasi yang seragam di seluruh penjuru langit. Dengan kehadiran CMB ini, maka perdebatan antara teori Big Bang dan Steady State berakhir dengan teori Big bang yang lebih unggung. Sejak saat itu, para kosmolog lebih berfokus untuk meneliti lebih jauh mengenai teori big bang.

Karakteristik dari CMB adalah ia menunjukkan spektrum seperti benda hitam sempurna dengan puncak spektrum pada panjang gelombang 2 mm.  Berdasarkan hukum wien, dengan puncak panjang gelombang 2 mm, maka CMB memiliki temperatur sebesar 2,725 K. Dalam kehidupan sehari-hari, radiasi CMB ini dapat berkontribusi sebagai gangguan statis pada televisi.

Pengamatan CMB

Untuk mengamati CMB lebih lanjut, dibutuhkan suatu alat yang dibawa ke suatu tempat yang tinggi dan memiliki temperatur yang rendah. Dengan kedua kombinasi ini, akan menjaga kelembaban tetap rendah dalam pengamatan. Walaupun pengamatan tetap dapat dilakukan di tempat yang tinggi, pengamatan terbaik tetap dilakukann di luar atmosfer Bumi. Pengamatan spektrum CMB pertama kali dilakukan oleh satelit yang bernama COBE. COBE merupakan singkatan dari Cosmic Background Explorer. Satelit ini diluncurkan pada tahun 1989 dan mengorbit pada ketinggian 900 km diatas permukaan Bumi.  Dari pengamatan COBE didapat beberapa hal penting yaitu spektrum CMB yang sangat dekat spektrum benda hitam, dan fluktuasi temperatur yang kecil.

Setelah pengamatan oleh COBE, NASA pada tahun 2001 meluncurkan satelit WMAP (Wilkinson Microwave Anisotropy Probe). Dibandingkan dengan COBE, WMAP menampilkan resolusi citra yang lebih baik dari COBE. Hasil selama sembilan tahun beroperasi adalah memperkirakan usia alam semesta, konstanta Hubble yang lebih presisi dibandingkan dengan tahun sebelumnya, dan beberapa parameter kosmologi lainnya.

Pada tahun 2009, ESA juga mengeluarkan satelit Planck. Satelit Planck ini mempunyai misi utama yaitu memetakan anisotropik dari CMB dengan frekuensi gelombang mikro dan infrmerah. Keunggulan dari satelit ini adalah memiliki sensitivitas yang lebih tinggi dari satelit-satelit sebelumnya. Pada tahun 2013 dan 2015, Satelit Planck mengeluarkan hasil yang meliputi beberapa parameter kosmologi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *