2016 dan FLAT EARTH

himastron Ilmiah Leave a Comment

Round or flat? (Sumber gambar: https://lisarisingberry.wordpress.com/2015/12/23/flat-earth-vs-round-earth-end-the-controversary/)

Round or flat?
(Sumber gambar: https://lisarisingberry.wordpress.com/2015/12/23/flat-earth-vs-round-earth-end-the-controversary/)

Menginjak bulan keenam pada tahun 2016, dunia Astronomi Indonesia dihebohkan oleh isu yang membuat orang bertanya-tanya tentang kebenaran ilmu pengetahuan, tentang Bumi datar. Beberapa video tersebar dan membuat orang awam menjadi yakin tentang kebenaran bahwa Bumi benar-benar datar. Tentu isu ini membuat dunia sains indonesia menjadi resah dibuatnya.

Saat kita pertama kali mengenyam pendidikan dasar, kita diajarkan bahwa Bumi berbentuk bola pepat atau oblate spheroid (bukan bola sempurna). Kadang guru kita juga mengatakan hal tersebut didasarkan pada penjelajahan samudra yang dilakukan orang-orang terdahulu yang menemukan bahwa mereka kembali ketempat semula ketika berlayar. Mungkin pernyataan itu masih membuat kita bertanya-tanya apa ibu benar-benar ada atau hanya dongeng untuk menyakinkan kita bahwa Bumi benar-benar berbentuk bola.

Mari kita mulai dengan analisis yang sederhana mengenai bentuk Bumi kita. Pernahkan di suatu malam ketika bulan purnama bersinar terang tiba-tiba bulan seperti hilang seketika/ menjadi merah lalu muncul lagi? Tentu prosesnya tidak seperti sulap. Ada beberapa tahap yang membuat Bulan menghilang. Ya, itulah Bumi yang perlahan-lahan sedang menutupi Bulan kita. Bagaimanakah bentuknya? Tentu akan terlihat lingkaran.  Hal ini menjadi salah satu bukti bahwa Bumi kita bukan datar.

Bukti lain adalah sebuah fakta astronomi yang menunjukkan bahwa peredaran bintang-bintang di langit di suatu lintang akan berbeda di tempat lain. Jika Bumi kita datar, maka kita dapat melihat benda-benda langit disemua penjuru langit akan terlihat. Namun pada nyatanya orang-orang yang berada di lintang selatan tidak akan bisa melihat bintang polaris. Begitu juga orang-orang di belahan bumi utara dengan lintang tinggi akan kesusahan melihat rasi crux. Ketinggian bintang ketika kulminasi atas disuatu tempat yang memiliki perbedaan lintang yang cukup besar juga akan berbeda. Sebagai contoh, ketika rasi orion berada di atas kepala kita pada saat kuliminasi atasnya, pada saat yang sama dibujur yang sama ketika orion sedang kulminasi di lintang tinggi, maka orang disana akan melihat rasi orion akan lebih rendah daripada yang kita lihat di Indonesia.

Contoh lain adalah ketika kita sedang berada di pantai dan memandang ke arah laut, garis horison akan tampak datar tak memiliki lengkungan. Tetapi apabila ada sebuah kapal yang datang ke arah kita, kapal tersebut akan tampak muncul sedikit demi sedikit dari balik cakrawala. Sama halnya ketika kita menaiki sebuah pesawat terbang dan terbang pada ketinggian 1.000 kaki, kita akan melihat cakrawala kita yang agak melengkung. Jika ketinggiannya ditambah, kita dapat melihat bahwa horison kita sebenarnya melengkung. Fenomena ini hanya akan bisa dilakukan apabila Bumi kita memiliki lengkungan (bola).

Jika Bumi datar, maka manusia akan dengan mudah menjelajah hingga ujung dunia. Nyatanya tidak ada satupun manusia yang terbukti pernah ke ujung dunia tersebut. Bumi akan terlihat datar oleh manusia karena ukuran Bumi sangat besar dibandingkan dengan ukuran manusia. Hal ini bisa diabaratkan seperti seekor semut yang berada di permukaan sebuah bola basket.

Nah itu adalah sedikit fakta yang menunjukkan Bumi merupakan sebuah bola pepat (oblate spheroid). Semoga fakta ini mampu memberi pencerahan tentang bentuk Bumi kita.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *