Himastron ITB Kaji Gravitational Wave Sebagai Sumber Gelap Informasi Astronomis

himastron Kajian 1 Comment

BANDUNG, himastron.as.itb.ac.id – Seiring dengan meningkatnya rasa penasaran manusia akan alam semesta, sebuah jendela informasi telah terbuka. Dengan dirilisnya publikasi tentang Gravitational Wave(Gelombang Gravitasi) pada Februari 2016 lalu, suatu sumber informasi baru dapat digunakan untuk memahami apa yang terjadi di alam semesta ini. Berkaitan dengan alam semesta dan Astronomi, Himpunan Mahasiswa Astronomi (HIMASTRON) ITB telah tercerdaskan melalui Kajian dan Diskusi Gravitational Wave.Kajian berlangsung di Ruang Seminar Astronomi, Lantai 6 Gedung CAS ITB pada hari Jumat (11/3/16). Proses pertukaran pikiran dan informasi di kajian ini melibatkan mahasiswaAstronomi ITB dan masyarakat umum yang tertarik dengan Gravitational Wave. Kajian ini diawali oleh seminar yang disampaikan oleh Premana W. Premadi, Ph.D.

Ibu Premana W. Premadi sedang membawakan materi

Ibu Premana W. Premadi sedang membawakan materi

Ruang Seminar Astronomi yang biasanya lengang pada Jumat siang, kala itu dipenuhi oleh mahasiswa yang duduk berdesakan. Kondisi yang wajar mengingat Kajian dan Diskusi Gravitational Wave (GW) ini adalah yang pertama dilakukan dalam kawasan ITB. Acara dimulai dengan pemaparan materi tentangGW oleh ibu Premana, yang juga merupakan dosen Astronomi ITB. Beliau menyampaikan tentang keunikan GW, yakni tidak memiliki aspek visual, sehingga kita hanya bisa mengira-ngira sumbernya. Dengan hasil riset yang dipublikasikan pada tahun 2016, tidak berarti pencarian keberadaan GW baru dilakukan pada dekade ini. Sejarah GW berawal dari sosok Joseph Weber yang mengklaim telah menemukan eksistensi gelombang ini pada1960-an. Namun, hasil yang didapat Weber tidak ditemukan oleh peneliti-peneliti lain yang mencoba melakukan rekonstruksi eksperimennya. Alhasil, GW belum cukup nyata untuk diterima oleh kalangan akademis, khususnya di bidang Fisika.

Salah satu peseta diskusi sedang bertanya

Salah satu peseta diskusi sedang bertanya

“Layaknya sebuah gelombang, GW memiliki arah getar. Elektromagnetik kita kenal sebagai gelombang dipol. Berbeda dengan EM, GW adalah sebuah gelombang kuadrupol,” papar bu Nana – sapaan akrab Premana. “Selain itu, yang membedakan EM (gelombang elektromagnetik, red) dengan GW adalah mekanisme perambatannya. EM merambat melalui dimensi ruang-waktu, sedangkan GW merambat dengan cara mengubah dimensi ruang-waktu,” lanjut bu Nana. GW disinyalir dapat muncul dari sumber lokal dan global. Sumber lokal dapat berupa objek yang menghasilkan sinyal secara periodik, spiral-in, atau burst (ledakan), sedangkan sumber global adalah yang bersifat stokastik (terjadi di mana-mana), seperti Cosmic Microwave Background (CMB) pada gelombang Elektromagnetik. Penelitian yang terakhir dilakukan telah mendeteksi sumber spiral-in, yakni dua lubang hitam yang saling berotasi dan pada akhirnya bergabung menjadi sebuah lubang hitam yang lebih masif. Sesi diskusi dibuka dengan pertanyaan syarat terdeteksinya GW di Bumi. Bu Nana menanggapi dengan kasus Supernova ledakan bintang yang bermassa jauh lebih besar dari massa Matahari. “Semua Supernova menghasilkan GW, namun sinyalnya tetap lemah,” jawab bu Nana. Pada akhirnya, mendeteksi GW bukan masalah keterbacaannya, melainkan tentang akurasi instrumentasi. Dengan akurasi hingga sekecil femtometer, Fasilitas LIGO yang berlokasi di Amerika telah mendeteksi keberadaan GW dan membuka masa depan Astronomi gelap: Astronomi yang tidak mengandalkan gelombang elektromagnetik.

DSC_5425

Foto bersama seusai acara

Ditulis oleh:
Abdiel Jeremi

Astronomi 2014

Comments 1

  1. anchortext

    Annd lastly, you will probably find tһat tgis timke frame to seal
    takes more than expected, as ⅼicensed гealtors
    are bound with the traditionaⅼ sales process avenues, ie:
    obtaining bank financing for that buyer. Make your home is ɑs less cluttered as poseible ɑnd make sure
    that it must be not to personalise and stylished in your specific taste.
    Fіnally, many оf these cߋmpаnies that buy houses have more
    thаn onee posѕible buyіng strategy that they coսld purchase real-eѕtate.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *