Resensi Buku: Sihir Gerhana

himastron Buku 2 Comments

Judul: Sihir Gerhana

sumber gambar website gramedia

Sumber gambar: website Gramedia

Penerbit: Kompas

Tahun Terbit: 2016

 

Gerhana matahari total memang baru saja berlalu, dan baru akan hadir menyapa warga Indonesia lagi beberapa tahun mendatang. Namun, untuk mereka yang masih terpukau sentuhan magis gerhana, serta mereka yang tak berkesempatan menikmatinya tahun ini, dapatlah menghibur diri dengan perwujudan keindahan gerhana dalam tinta dan kertas. Torehan pena belasan pengarang yang pernah menghias halaman-halaman Kompas, dari 1969 hingga 2016, dikumpulkan dengan apik dalam buku ini.

 

Secara keseluruhan, Sihir Gerhana memuat dua puluh sembilan naskah yang terbagi atas tiga bab: ‘Gerhana dan Ilmu Pengetahuan’, ‘Gerhana, Mitos, dan Kepercayaan’, serta ‘Gerhana dan Masyarakat’. Bab ketiga menempati porsi terbesar dengan dua belas naskah. Masing-masing tulisan membawakan corak tersendiri dalam pandangan terhadap gerhana, mulai dari uraian ilmiah Bambang Hidayat yang senantiasa penuh sindiran halus dan antusiasme seorang ilmuwan, esai budaya Y. B. Mangunwijaya yang liris diksinya serta tak lupa berbumbu referensi mitos sana-sini, ulasan mitos dan psikologi ketakutan dari Abdurrahman Wahid yang kala itu masih menjabat pemimpin pondok pesantren, hingga gaya meletup-letup Dedy Suardi yang kalimatnya hampir selalu diakhiri tanda seru! Buku ini menawarkan sesuatu untuk setiap jenis pembaca.

 

Jika artikelnya dibaca secara kronologis, nampaklah perkembangan dan pergeseran pandangan masyarakat terhadap ilmu alam dalam beberapa dekade terakhir. Tulisan-tulisan bernada peringatan akan peristiwa 1983 lambat laun berubah menjadi tulisan-tulisan bernada kagum dan bersemangat tentang perburuan gerhana. Dari sini pembaca akan mempelajari suasana di masa-masa lampau, kala para ahli bersusah payah meyakinkan warga bahwa gerhana bukan bencana. Dr. Djoni N. Dawanas bahkan secara khusus membahas berita-berita salah kaprah yang muncul sekitar tahun itu dalam artikel “Berita GMT yang Timbulkan Senyum”. Nampaknya mestilah kita bersyukur berada di zaman yang berbeda, walau salah paham belum sepenuhnya hilang juga.

 

Bila bicara mitos gerhana, tentulah teringat Batara Kala. Tentu sudah sering didengar kisahnya oleh orang Indonesia, apalagi setahun terakhir. Tak kenal? Bukan masalah. Ada cukup banyak artikel untuk mengenal sang raksasa dalam berbagai versi, mulai dari Hindu, Buddhis, hingga mancanegara. “Beberapa Peristiwa Gerhana yang Bersejarah”, seperti judulnya, menawarkan kisah lain lagi. Tahukah anda bahwa peristiwa gerhana berjasa besar dalam pelayaran Christopher Columbus yang mahsyur?

 

Bahasan lain yang muncul mengaitkan gerhana dan pariwisata. Misalnya, pada “Keindahan Gerhana Matahari Total” yang mengetengahkan posisi gerhana sebagai daya tarik suatu negara, yang telah sukses pula dimanfaatkan di Indonesia saat ini. “Jika Takut Dilembur Pasang, Jangan Berumah di Tepi Pantai” menghadirkan renungan tentang gerhana dalam kacamata kemajuan peradaban. Ditutup dengan kokoh oleh kalimat, “Jika takut akan akibat sampingan pembaruan, jangan bermimpi ingin jadi bangsa yang maju”, secara pribadi tulisan ini adalah salah satu esai terbaik dalam buku ini.

 

Sihir Gerhana yang tiba dengan keragamannya mengajak pembaca menelusuri fenomena alam ini dari berbagai sisi. Dalam perjalanannya, satu demi satu artikel membantu menguak kenapa begitu banyak orang menanti kejadian ini, dan kenapa gerhana matahari 2016 yang barusan lewat jadi terasa begitu istimewa. Namun, keragaman ini pulalah yang menjadi kelemahan Sihir Gerhana. Pandangan yang silih berganti, kadang dengan pendapat yang saling beradu, bisa jadi membuat pembaca yang awam malah jadi meragu. Mana yang benar, pihak yang bersikukuh gerhana aman diamati atau yang bernada waswas? Artikel ini bilang begini, artikel ini bilang begitu? Ini hal kecil yang berdampak besar, terutama untuk keberadaan buku ini sebagai perayaan apresiasi terhadap gerhana matahari.

 

Sihir Gerhana dibanderol seharga Rp 54.000,00 dan bisa didapatkan di toko buku besar terdekat. Bahasa yang ringan menjadikannya enak dinikmati segala kalangan, dan sebagai buku yang merangkum artikel-artikel bertopik sama dalam rentang waktu demikian lama, buku ini cocok dijadikan rujukan. Namun, sedikit masalah yang agak mengganggu adalah keberadaan sumber asli artikel di akhir buku sehingga pengguna harus membolak-balik ke akhir untuk menemukan tanggal terbit artikel yang tengah dibaca (karena di artikel hanya dicantumkan nama penulis). Alangkah baiknya bila identitas sumber disertakan juga di tiap artikel.

 

Akhir kata, selamat menempuh perjalanan menuju dunia yang tak memandang kegelapan sebagai sumber rasa takut, yang menghargai langit malam sebagai bagian dari hidup, yang menjadikan semesta tempat bermain bersama rasa ingin tahu. Semoga buku ini dapat mendekatkan masyarakat dengan astronomi khususnya dan ilmu alam umumnya, dan meminjam kalimat dari Prof. Dr. Bambang Hidayat, dengan landasan pengertian itu pula itu pula kita dapat mengagungkan nama Pencipta-nya, tanpa ketakutan mengikuti drama hasil ciptaan-Nya.

 

Ditulis oleh:

Lisa Santika Onggrid

Astronomi 2013

Comments 2

    1. Post
      Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *