Gerhana Bulan Total 4 April 2015

Alifa Zahra Leave a Comment

Gerhana Bulan

 

Sepanjang sejarah, gerhana telah menjadi peristiwa yang besar bagi umat manusia. Gerhana membangkitkan perasaan kagum, dan tidak jarang juga perasaan takut pada diri manusia. Salah satu yang mungkin akan menakutkan bagi manusia yang hidup di masa lalu adalah gerhana bulan total, dimana Bulan akan berubah warna menjadi merah untuk beberapa saat.

Namun, apakah yang sebenarnya mengakibatkan terjadinya gerhana? Gerhana terjadi ketika suatu benda memasuki daerah bayang-bayang dari benda lainnya.  Kedua objek yang terlibat dalam gerhana akan terlihat memiliki ukuran yang sama jika dilihat dari Bumi. Salah satu dari jenis gerhana yang paling mudah diamati adalah gerhana bulan. Gerhana bulan  terjadi ketika Bulan memasuki daerah dimana sinar Matahari tidak dapat lewat karena tertutup oleh Bumi. Dalam peristiwa gerhana bulan, Bulan tidak akan hilang sepenuhnya. Melainkan hanya terjadi penurunan dalam tingkat kecerlangan Bulan. Lama terjadinya keseluruhan proses gerhana bulan berkisar antara beberapa menit saja hingga sekitar 4 jam.

 

Proses terjadinya Gerhana Bulan Total nampak dari Bumi

(http://static.panoramio.com/photos/large/63622347.jpg)

 

Gerhana bulan  terbagi menjadi tiga jenis, yaitu gerhana bulan total, gerhana bulan sebagian, dan gerhana bulan penumbra. Gerhana bulan total terjadi ketika seluruh Bulan memasuki umbra, bagian gelap dari bayangan Bumi. Gerhana bulan sebagian terjadi ketika hanya sebagian bagian Bulan yang masuk ke dalam umbra. Sedangkan gerhana bulan penumbra terjadi jika Bulan hanya memasuki penumbra, yaitu bagian yang kurang gelap dari bayangan Bumi. Pada gerhana bulan  penumbra, Bulan hanya berkurang sedikit intensitasnya sehingga kecerahannya pun praktis tidak bisa dibedakan dengan Bulan purnama biasa sehingga akan sangat mudah untuk terlewatkan.

 

Perbedaan kecerahan Bulan saat purnama dan gerhana penumbral tidak jauh berbeda

(http://www.astroleaguephils.org/archive/news/121128penle_mosaic_final_data.jpg)

 

Gerhana bulan dapat terjadi ketika Matahari, Bumi, dan Bulan berada pada satu garis lurus. Hal ini dapat terjadi ketika Bulan berada pada fase purnama. Namun, gerhana tidak terjadi setiap purnama. Hal ini dikarenakan bidang orbit Bulan dan bidang orbit Bumi memiliki perbedaan kemiringan sebesar 5˚, sehingga Matahari, Bumi dan Bulan tidak selalu segaris ketika Bulan memasuki fase purnama. Gerhana hanya mungkin terjadi ketika Bulan berada di dekat titik perpotongan bidang orbitnya dengan bidang orbit Bumi, atau biasa disebut node.

 

Posisi bulan yang dapat menghasilkan gerhana

(https://thesciencegeek01.files.wordpress.com/2015/03/moon-tilt1.gif)

 

Gerhana bulan yang persis sama akan terjadi setiap 19 tahun sekali. Siklus ini berkaitan dengan  tiga jenis bulan, yaitu bulan sinodis, drakonis, dan anomalistik. Ketiga jenis bulan ini memiliki akan memiliki kelipatan yang sama  sekitar 19 tahun sekali. Sehingga setiap 19 tahun, keadaan-keadaan yang berkaitan dengan bulan-bulan ini, yaitu fase Bulan, posisi Bulan terhadap node, dan posisi Bulan terhadap jarak terdekatnya dengan Bumi akan sama kembali. Sehingga gerhana yang terjadi setiap siklus ini akan memiliki kesamaan. Siklus ini dinamakan siklus Saros, dan sudah diketahui sejak zaman Babilonia.

 

Namun sayangnya, Bulan bergerak menjauhi Bumi dengan laju sebesar 4 sentimeter per tahun. Sehingga dalam beberapa milyar tahun lagi, kita tidak akan bisa menyaksikan gerhana bulan total karena lebar umbra Bumi yang jatuh di permukaan bulan lebih kecil dari diameter Bulan.

 

Berbeda dengan gerhana matahari yang hanya dapat disaksikan di daerah tertentu saja pada suatu waktu. Gerhana bulan dapat disaksikan di seluruh bagian Bumi yang sedang mengalami malam hari. Hal ini dikarenakan pengamatan gerhana bulan tidak terpengaruh oleh luasnya bayangan benda langit lain.

 

Salah satu fenomena yang menarik saat gerhana bulan total terjadi adalah berubahnya warna Bulan menjadi kemerahan. Perubahan warna ini diakibatkan oleh adanya cahaya matahari yang dibiaskan oleh atmosfer Bumi. Bulan menjadi berwarna merah karena warna-warna lain dihamburkan oleh atmosfer Bumi, sedangkan cahaya berwarna merah lebih mudah untuk diteruskan. Warna ini juga dipengaruhi oleh banyaknya debu dan awan di atmosfer Bumi. Semakin banyak debu, semakin gelap warna Bulan. Jika Bumi tidak memiliki atmosfer, maka Bulan akan menjadi gelap total ketika gerhana bulan total terjadi.

 

Gerhana bulan total dapat kembali diamati di Indonesia sebanyak 2 kali di tahun 2018, yaitu pada 31 Januari 2018 pukul 18.50-22.10 WIB dan 28 Juli 2018 pukul 01.30-05.20 WIB. Sedangkan gerhana bulan sebagian selanjutnya dapat diamati pada 8 Agustus 2017 pukul 00.30 sampai 02.05 dan 16 Juli 2019 mulai pukul 2.09 hingga Bulan terbenam.

 

Mohammad Hafieduddin, Divisi Keprofesian Himastron

 

Sumber:

Karttunen, H., dkk. (2007). Fundamental Astronomy 5th edition. Berlin: Springer-Verlag.

Britt, R. B., Lunar Eclipses: What Are They; When is the Next One?, [online], (http://www.space.com/15689-lunar-eclipses.html, diakses tanggal 2 April 2015 )

Espenak, Fred. Lunar Eclipses: 2011 – 2020, [online], (http://eclipse.gsfc.nasa.gov/LEdecade/LEdecade2011.html, diakses tanggal 3 April 2015 )

http://www.space.com/15689-lunar-eclipses.html

 

Berikut Infografis untuk Gerhana Bulan Total 4 April 2015

1

2

3

4

5

 

6

7

8

 

Kredit: Observatorium Bosscha

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *